PAPUABARAT PUSARAN ONLINE- Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya (PBD) mengembangkan ekowisata sebagai strategi memberdayakan masyarakat sekaligus menaikkan pendapatan masyarakat lokal melalui sektor pariwisata yang berkelanjutan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Papua Barat Daya Yusdi Nurdin Lamatenggo di Sorong, Kamis, mengatakan konsep ekowisata menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama dalam pengelolaan destinasi wisata sekaligus menjaga kelestarian alam.
“Ekowisata merupakan salah satu strategi kita untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dari sektor pariwisata, tetapi juga menjadi bagian dari konsep pembangunan berkelanjutan,” ujar Yusdi.
Ia mengatakan pengembangan ekowisata harus memberikan ruang yang luas bagi masyarakat asli Papua untuk terlibat langsung, mulai dari pengelolaan destinasi, pelestarian lingkungan hingga pemanfaatan dampak ekonomi yang dihasilkan dari aktivitas pariwisata.
Menurut dia, masyarakat lokal harus menjadi pemain dan pelaku utama dalam pengembangan ekowisata karena mereka memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan dan sumber daya alam di wilayahnya.
“Kita berharap masyarakat lokal menjadi pemain dan pelaku utama. Mereka yang menjaga alamnya dan mereka pula yang menikmati hasilnya. Kalau masyarakat menjaga alam, otomatis wilayahnya juga akan terjaga dengan baik,” katanya.
Yusdi menilai PAPEDA Summit 2026 menjadi momentum bagi pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Tanah Papua untuk membangun komitmen bersama dalam mendorong pengembangan ekowisata.
“Kita berharap setelah kegiatan Papeda Summit ini seluruh provinsi, kabupaten dan kota di Tanah Papua terus mendorong pengembangan ekowisata,” ujar dia.
Khusus di Papua Barat Daya, kata dia, pemerintah provinsi telah mendorong seluruh pemerintah kabupaten dan kota mengembangkan konsep ekowisata secara bertahap melalui pengembangan desa wisata yang menjadikan masyarakat lokal sebagai basis utama pengelolaannya.
“Kita lakukan secara bertahap. Strateginya dimulai dari pengembangan desa wisata terlebih dahulu,” katanya.
Ia mengatakan, Papua Barat Daya telah memiliki sejumlah desa wisata yang mulai dikembangkan sebagai destinasi unggulan.
Pada 2026, terdapat dua desa wisata yang menjadi fokus pengembangan, yakni Desa Klaogin Distrik Seremuk di Kabupaten Sorong Selatan dan Desa Friwen Distrik Waigio Selatan di Kabupaten Raja Ampat.
“Kita sudah memiliki banyak desa wisata. Hampir semua daerah mempunyai desa wisata unggulan. Tahun ini ada dua yang menjadi unggulan, yaitu Klaogin di Kabupaten Sorong Selatan dan Friwen di Kabupaten Raja Ampat,” ujar dia.
Ia berharap pengembangan kedua desa wisata tersebut dapat menjadi contoh penerapan ekowisata yang melibatkan masyarakat secara langsung dalam pengelolaan dan pemanfaatan potensi pariwisata.
Pengelolaan desa wisata itu juga diharapkan memperoleh dukungan melalui berbagai kolaborasi yang dibangun dalam rangkaian PAPEDA Summit 2026.
Yusdi berharap seluruh hasil pembahasan selama tiga hari pelaksanaan PAPEDA Summit dapat memberikan dampak nyata terhadap pengembangan sektor pariwisata di Papua Barat Daya.
“Harapan kami, hasil kegiatan selama tiga hari ini dapat berdampak terhadap semakin efektifnya pengelolaan desa wisata maupun ekowisata di Papua Barat Daya,” kata Yusdi.***











